jump to navigation

Kolase Imagined Identity di Resto-resto Kuliner Juni 23, 2009

Posted by Rifqi Muhammad in esai.
add a comment

Sekitar dua bulan lalu, bersama beberapa teman, Saya bertandang ke salah satu warung makan khas Jepang di Jogja. Meski secara georgafis warung yang kira-kira berukuran 5 x 7 meter itu jelas jauh dari Jepang, tapi ia mampu menghadirkan Jepang. Mulai dari makanan, musik, tata ruang, perabot, sampai hiasan-hiasan, semua menguatkan imajinasi Jepang. Sepertinya sekat dan skala ruang memang bukan lagi menjadi halangan untuk saling mengadopsi. (lagi…)

Kisah Sumbang Seputar Laman Maya Juni 9, 2009

Posted by Rifqi Muhammad in esai.
add a comment

Sudah tiga hari ini saya menelusuri laman-lama maya tiap malam. Entah berapa lamanya, tapi setidaknya antara pukul 21.00 sampai 06-00 saya menjaga network frequency agar tetap betah dalam komputer mini milik Baiquni. Melalui Baiquni’s small white box, saya bertolak dari bilik B21 menuju ke Pittsburgh, Lasem, London, Moscow, atau Brown. (lagi…)

Kondisi Post-anatomi, Melukis Manusia Mei 29, 2009

Posted by Rifqi Muhammad in esai.
add a comment

; catatan lepas untuk memasuki tubuh manusia dalam seni rupa

Dalam kancah seni rupa, Raden Saleh Syarif Bustaman dikategorikan sebagai pioner perupa modern di Indonesia. Dilahirkan di kalangan kerabat bupati semarang, Saleh termasuk kaum pribumi sebetulnya, namun karena perupa ini banyak bergumul dengan kalangan londo, terlebih seusai belajar di Eropa atas beasiswa Belanda dan menikah dengan orang Belanda, gaya hidupnya lebih mengarah kebarat-baratan. (lagi…)

Ratapan-Ratapan Pergolakan Gus Mus Tentang Hikayat Lirboyo Mei 3, 2009

Posted by Rifqi Muhammad in esai.
2 comments

; Apresiasi Puisi “Lirboyo, Kaifal Haal ?”

Menulis puisi model orang menulis surat dalam andai-andai, detil pula rekaman aspek penguat dan pilihan diksi yang tidak berorietasi pada matra, tetapi hasilnya jauh lebih mencengangkan, saya pikir Gus Mus—paggilan akrab KH Ahmad Musthofa Bisri—ini terlalu ber-skill. Kesan itu menggumuli saya seusai membaca sajak bertajuk “Lirboyo, Kaifal Haal ?” yang terhimpun dalam Antalogi Puisi Tadarus (Prima Pustaka Yogya, 1993). (lagi…)

Aku dan Idea Tentang Cak Nur* Januari 28, 2009

Posted by Rifqi Muhammad in esai.
10 comments

Justru saya menjadi dekat dengan Cak Nur saat mengakrabinya sebagai Idea. Bukan semata kala bergumul dengan pemikirannya.

Pengalaman dan ingatan yang berkesan tentu tak mudah lekang. Demikianlah kiranya saat tokoh besar itu merangsek dalam relung kesadaran saya. Kala itu, saat saya berumur sebelas tahun, pak lek yang tengah menempuh Perguruan Tinggi di Yogyakarta kebetulan sedang pulang. Laiknya anak-anak yang hidup di desa terpencil, mendengarkan cerita tentang hiruk pikuk kota dengan sebongkah keindahannya tentu menjadi dambaan. Maka wajar bila saya meminta pak lek untuk mengkisahkan dunia barunya. (lagi…)

Silang Kuasa Seksualitas Juni 7, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in esai.
3 comments

Seksualitas tergolong studi multidesipliner. Sebuah formula kajian terberat yang pernah saya kenal, tentu urutan ketiga setelah belajar meraih surga dan menjadi anak sholeh. Untuk membahasnya, kita musti [sok] kenal dengan dekonstruksi, feminisme, dan poskolonial. Kenapa? Keempat tema itu berjalin kelindan. Seksualitas berangkat dari wacana perempuan, lalu menjalar diskursus gender, karena wilayah ini kental dengan feminisme, mau tak mau ia harus merangsek kelamin dekonstruksi. Sementara, dekonstruksi tak terpisah dengan varian-varian koloni posmodern, salah satunya postkolonial. Celakalah, tidak mudah berkenalan dengan monster-monster itu. (lagi…)

Mengenang Pak Kayam, Merenungi Kebudayaan, (Refleksi 6 Tahun Wafat Prof. Umar Kayam) April 23, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in esai.
1 comment so far

16 April 2002, begawan sastra dan budaya, Prof. Umar Kayam meninggal dunia. Kini, setelah enam tahun kepergiannya, dunia tampaknya tak banyak berubah. Padahal, dalam situasi yang serba sulit dan ruwet ini, bangsa ini butuh lebih banyak lagi agen-agen perubahan. Pada konteks seperti inilah kita perlu merefleksikan kembali jejak langkah dan khasanah pemikiran Pak Kayam. (lagi…)

Anugrah Tuhan Untuk Rembang (Refleksi Peringatan Haul K.H. Bisri Mustofa) April 23, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in esai.
3 comments

Kebanyakan masyarakat Rembang boleh jadi kurang mengenal Mashadi. Padahal, ia adalah salah satu diantara sedikit tokoh berkualitas yang membesarkan nama Rembang. Ya, mungkin mereka lebih mengenal nama besarnya, yakni Bisri Mustofa. Meski telah berselang 31 tahun telah tiada, ingatan akan kenangan indah dan ketauladanan Mbah Kyai ini tak akan lekang dari memori masyarakat Rembang. (lagi…)

Mengangkat Sastra (Refleksi Ulang tahun Putu Wijaya ke-64) April 23, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in esai.
add a comment

Dunia kesusastraan Indonesia tak bisa dilepaskan dari nama Putu Wijaya. Bahkan, berkat kiprahnya lah kesusastraaan menjadi terangkat. Track record-nya yang gemilang, menempatkan Putu sebagai sastrawan besar dalam belantara sastra Indonesia. Tak kurang dari 40 novel, lebih 40 naskah sandiwara, sekitar seribu cerpen, juga ratusan esei, kritik drama, hingga buku teks drama karyanya telah dilepaskan. Kesemuanya terbang mengitari rimba kesusatraan Indonesia. (lagi…)

Kelindan Novel dan Ilmu Sejarah April 23, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in esai.
add a comment

Novel sejarah boleh jadi bukanlah suatu hal yang asing dalam dunia kesusastraan Indonesia. Kemunculannya barangkali wajar. Sebab, Indonesia memiliki banyak fakta dan peristiwa historis yang terlampau menarik untuk dikisahkan kembali. Belum lagi, genre sastra ini memang memiliki banyak keleluasaan dalam mengekspresikan semua unsur sastra secara rinci, yakni mencakup tema, fakta, dan sarana. Tak ayal bila kemungkinan penulisan dengan menggunakan repertoar (repertoire) peristiwa historis menjadi terbuka lebar. (lagi…)