; Pembacaan Awal Masculinity Studies
“Adakah alasan rasional dan eksistensial bagi keterlibatan laki-laki dalam upaya mendukung perjuangan emansipasi perempuan?” Demikian kiranya Rocky Gerung membuka tulisannya bertajuk “Feminisme dan Partisipasi Laki-laki” dalam Jurnal Perempuan edisi 64. Meski saya baca sepintas lalu, pertanyaan ini ternyata secara menohok mengintervensi nalar saya. Sekalipun sebetulnya tak begitu sulit untuk mencari jawabnya, saya justru terhenyak. Bukan karena tidak pernah terpikir. Ini lantaran saya merasa bahwa pertanyaan itu serasa belum pernah saya ajukan pada diri sendiri.
Ya. Beberapa legitimasi teoritis yang menopang keterlibatan laki-laki dalam proyek emansipasi cukup tersebar luas, dan beberapa sempat saya baca. Namun bukan itu yang mengusik di benak kepala. Saya merasa ini ironis. Sudah kepalang tanggung mendekati persoalan seksualitas sebagai tema prioritaskan. Namun pertanyaan paling dasar dalam diskursus emansipasi belum cukup matang saya refleksikan.
Pertanyaan Gerung itu sebetulnya, dengan sendirinya menegaskan kembali dinamika vis a vis dalam ruang politis gender. Namun saya menyadari, bahwa ini pertanyaan eksitensial sebagai dorongan identitas. Bahwa pertanyaan ini bertolak dari naluri eksistensial kelamin. Bukan sebagai pertanyaan paradigmatis pada persoalan gender. Sehingga tak perlu disinggung lebih lanjut mengenai apakah pertanyaan itu semakin menegaskan oposisi biner sentimen gender atau tidak.
Nyatanya, dalam segala institusi dan ruang pengetahuan, adaptasi politis pengetahuan telah menegakkan jejaring sistem yang kini kita kenal dengan ‘kekuasaan’, ‘hukum’, ‘kekerasan’, dan sejenisnya. Dari nalar inilah pengetahuan, rasio, dan kesadaran laki-laki dibentuk. Dalam wujud yang paling konkrit, ialah menjalarnya stereotyping dan melekatnya nalar itu dalam institusi sosial, termasuk keluarga. Berbeda dengan hal itu, kesadaran dan pengetahuan perempuan bercokol dari pengalaman ketubuhan. Inilah yang membedakan keduanya.
Kita bisa melihanya, misalnya, bahwa bocah laki-laki lebih bisa menerima dan menancapkan dalam rasionya ketika dinasihati, “engkau laki-laki, harus kuat.” Berbeda dengan perempuan. Tidak semuanya lantas bisa mengikuti begitu saja stereotype yang yang menghukumi perempuan dalah sosok yang lemah. Mereka mendapatkan pengetahuan itu justru dari kontaks historis, dimana mereka selalu dinomorduakan dalam banyak hal. Ya. Berbeda dengan laki-laki, hanya melalui kenyataan ketubuhanlah pengetahuan perempuan diperoleh. Jadi ia konkrit dan historis.
Apakah ini menuntungkan laki-laki? Tidak juga. Dalam terkaan Gerung, laki-laki kiranya mesti menegaskan rasionya pada self-critisism. Bahwa analisa teoritis feminism menghasilakan kontra pikiran pada laki-laki, di mana konstruksi patriarki sesungguhnya juga merugikan dua pihak. Pembedaan dan tuntutan stereotype pada laki-laki justru unproductive dengan rasionya. Misalnya paradigma ‘power’ yang dipahami laki-laki, seringkali mewujud pada politik penaklukan dan kekerasan.
Kalau di dunia barat beroperasi secara literer, di negeri ini juga mengambil bentuk dominasi psiko-kultural semacam KDRT dalam ruang domestik. Bukankah ini kecerobohan yang berlawanan dengan sifat rasio yang sesungguhnya, yakni negosiasi dan argumentasi. Pada praktiknya, patriarkhi lah yang menghalangi laki-laki dalam mengembangkan segala potensi kemanusiannya; baik itu rasio, emosi, kesosialan, kasih sayang, dan kebebasan eksistensial.
Keadaan ini lantas melegitimasi beberapa feminis untuk mengembangkan politik kuasa melalui gugus kesadaran rasio ekslusif yang berdasar pada pengalaman kutural. Historisitas patriarkhi justru dimanfaatkan untuk menyatakan bahwa perempuan memang harus mengambangkan struktur bahasa, rasio, dan kesadaran yang berbeda dari laki-laki.
Di sinilah kiranya, ‘politics of difference’ mesti diarahkan pada negosiasi politik guna membangun tata sosial baru yang egaliter. Bukan untuk mereduksi salah satunya, melainkan bersama menegaskan kembali potensi maskulinitas dan femininitas yag tidak terlokalisasi pada jenis kelamin. Bahwa laki-laki juga menggendong bayi dan perempuan juga bisa meleguh keras-keras.
Dalam rangka negosiasi itu, studi feminism juga perlu dibarengi dengan kajian masculinity studes, atau yang kerap disebut men’s studies. Bagaimanapun, layaknya perlu juga kita menelanjangi maskulinitas laki-laki. Toh, bukankah feminitas perempuan sudah kerap ditelusuri? Dan mereka kerap berontak, bukan? Inilah kiranya perlu juga menggali maskulinitas laki-laki. Barangkali ia malah pasrah. [Rifqi Muhammad]
Filed under: filsafat; cultural studies; seksualitas, sosial; budaya; sejarah, rifqi muhammad, maskulin, Asia, Indonesia, Social Sciences, Psychology, Rasional, eksistensial, emansipasi, perempuan, Rocky Gerung, Feminisme dan Partisipasi Laki-laki, Jurnal Perempuan, legitimasi teoritis, dinamika, vis a vis, gender, stereotyping, pengalaman ketubuhan, self-critisism, KDRT, Historisitas, patriarkhi, politics of difference, feminin, American Geophysical Union, kesetaraan gender, tentang gender, pendidikan gender, persn gender, gender di indonesia, perbedaan gender, teori gender, masalah gender, artikel gender, diskriminasi, gender dalam islam, perspektif gender





















setidaknya saya akan mengatakan “benar” bahwa saat ini gender berada pada makna yang teredusir menjadi “segala yang ada hubungannya dengan kelamin”. namun, pertanyaan selanjutnya adalah “apakah nilai itu juga keluar dari pemaknaan akan kelamin?”. masalahnya, hal ini merupakan inti dari perjuangan kesetaraan gender.
jika melihat pada sejarah perkembangan pemikiran, sebuah pemikiran muncul sama sekali tidak menyentuh oada persoalan kelamin. sebut saja rasionalitas Descartes, yang lebih banyak berkutat pada soal kesadaran rasio. atau hegel yang klimaks dengan diaktika akal. bahkan jika ditarik pada isu yang lebih nyata, kekerasan semisal, term kekerasan selalu diidentikkan pada “tindakan yang menimbulkan luka”, tanpa pernah melihat kelamin apa yang melukai dan dilukai.
jadi, dalam kacamata saya, pada akhirnya gender juga tidak lebih dari sekedar pereduksian konsep pikir. (maaf jika saya salah)
Ini tidak berkaitan dengan korpus filsafat barat. Kalaupun mau dikaitkan filsafat, ia bercokol dari postrukturalisme. Keterkaitannya dengan filsafat sebagai sistem gagasan, kajian semacam ini ingin menunjukkan keganjilan yang terjadi dalam sistem berfikir. termasuk, misalnya, adanya nuansa kuasa dalam filsafat yang berusaha untuk menjadi dominan. Juga, keangkuhan filsafat yang dengan argumentasinya selalu mencoba mangatasi banyak hal. Nuansa maskulinitas semacam ini kirany ayang dikritik.
Studi feminisme, seksualitas, dan sebagainya, menjadi bagian dari filsafat karena ia mennjukkan bahwa rasionalitas filsafat, adalah rasionalitas maskulin. Dan ini terjadi di hampir semua bidang.
[...] Menelanjangi Maskulinitas Laki-laki [...]