Pancasila di Perguruan Tinggi

Salah satu judul berita mencolok tentang Perguruan tinggi yang hingga kini sangat saya ingat ialah “70% Perguruan Tinggi tak terapkan Mata Kuliah Pancasila”, dalam koran harian Kedaulatan Rakyat pada 4 Februari 2009. Tentu saja kabar ini begitu memprihatinkan. Sekaligus membuktikan anggapan ketidakpedulian Perguruan Tinggi terhadap Pancasila, sebagai landasan bangsa. Sangat disayangkan, di era globalisasi, di mana bangsa perlu mengukuhkan Pancasila sebagai jatidiri, Perguruan Tinggi malah angkat kaki dari tanggungjawab ini.

Kenapa Pancasila? Hingga kini kita tidak menemukan alasan yang tepat untuk berpaling dari Pancasila dan memilih landasan ideologis yang lain. Sehingga anggapan bahwa Pancasila sudah tak relevan lagi dijadikan sebagai landasan bangsa, dengan sendirinya menjadi pernyataan yang tidak relevan. Pancasila adalah pencapaian luhur Bangsa. Tak heran bila secara yuridis kontitusional, Pancasila pun diangkat sebagai dasar negara, falsafah, kepribadian, dan pandangan hidup bangsa.

Dengan fenomena Perguruan Tinggi di atas, apakah Pancasila yang tercantum pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 berarti tinggal rangkaian kata, tanpa makna? Tampaknya memang tak hanya di level Perguruan Tinggi, di tengah masyarakat pun, upaya internalisasi nilai pancasila banyak ditanggalkan. Satu indikator paling kentara yang menyiratkan adanya krisis kepercayaan tehadap pancasila ialah betapa “alerginya” kita menyebut pancasila. Kondisi ini pun juga menjangkit para pejabat. Coba perhatikan, Pancasila sangat jarang disebut dalam agenda-agenda institusional, mulai dari level pemerintah pusat hingga daerah.

Fenomena ini kiranya mengindikasikan adanya krisis nilai dan kepercayaan yang dilanda Pancasila. Tentu saja pelbagai problem kebangsaan akan timbul bila hal ini terus berlarut, misalnya seperti problem persatuan bangsa, kepribadian (identitas), kepercayaan pada lembaga-lembaga kenegaraan akan luntur, dan masalah-masalah lain. Akibatnya, budaya anarkis dan atau pemaksaan kehendak berpeluang menjadi trend yang menggila. Sekalipun belum mencapai titik klimaks, tetapi indikasi yang mengarah pada kecurigaan itu sudah dapat kita baca. Kini, betapa, baik tren budaya anarkisme, atau paham liberalisme sekalipun, sudah kental kita rasakan di Indonesia. Sehingga jangankan implementsi nilai-nilai Pancasila, penjagaan moralitas hukum yang lebih konkrit pun kurang terlihat. Akibatnya instrument bangsa tersebut sudah tidak dapat bertindak adil. Ia, ibarat, sudah tidak adil sejak dalam pikiran.

Dalam hal ini, dimana posisi Perguruan Tinggi? Sebagai institusi pendidikan tertiggi, Perguruan Tinggi kiranya perlu turut menjaga dan memperkaya kajian pancasila. Kimprah luhur Perguruan Tinggi, saya kira, selain terletak pada fungsi edukasi, juga terletak pada peran Perguruan Tinggi dalam upaya menegaskan bangsa. Sehingga, membayangkan Perguruan Tinggi Idaman, ialah Perguruan Tinggi yang secara maksimal memperkaya kajian kebangsaan, setidaknya melalui pegajaran mata kuliah Pancasila. Melalui kajian demikian lah mahasiswa terlatih untuk turut mendiskusikan problem eksistensial bangsa. Dan yang perlu disadari, bahwa tradisi akademik yang ketat dan kukuh, akan menyokong institusi pendidikan tinggi menjadi Perguruan Tinggi Terbaik.

Mengupayakan kajian Pancasila, tentu tak terbatas pada kategorisasi Perguruan Tinggi tertentu, bukan pula Perguruan Tinggi yang masuk dalam jajaran Perguruan Tinggi Favorit Indonesia, melainkan semuanya. Perguruan Tinggi yang berbasiskan nilai-nilai keagamaan sekalipun, Universitas Islam Indonesia misalnya, punya tanggung jawab yang sama. Tentu akan menjadi nilai lebih bagi Perguruan Tinggi tersebut turut memperkaya kajian kebangsaan. Dengan demikian, misi Perguruan Tinggi disokong dengan aplikasi keilmuan yang integral, tidak jatuh dalam kecendrungan pasar semata.

Di samping itu, dengan memaksimalkan kajian kebangsaan, Universitas Islam Indonesia bisa tumbuh dan berkembang menjadi Perguruan Tinggi yang mampu mencetak lulusan yang unggul, yang jujur,  yang peduli, yang dipercaya oleh masyarakat. Demikian tentunya bisa dibuktikan melalui kualitas lulusannnya yang tidak bisa dilihat setengah mata. Dari segelintir aktor peradilan yang dipercaya bersih, beberapa diantaraya ialah lulusan Universitas Islam Indonesia. Mencetak lulusan yang unggul dan bersih pantas tersemat bagi Universitas Islam Indonesia.

Kelebihan lain dari Universitas Islam Indonesia, saya kira, ialah keterbukaan. Selain perlu memperkokoh fondasi idealism dan kajian  kebangsaan. Perguruan Tinggi juga perlu terbuka terhadap pandangan masyarakat. Inilah wujud demokratisasi arah dan strategi Perguruan Tinggi terhadap aspirasi masyarakat. Dalam konteks ini, Lomba Blog UII tentang Perguruan Tinggi Idaman yang diadakan oleh Universitas Islam Indonesia sangat perlu di apresiasi. Bagu kampus ini, cerapan dari pelbagai opini publik tentu sangat membantu Universitas Islam Indonesia dalam mempertahankan posisinya dalam jajaran Perguruan Tinggi Favorit Indonesia. [RIFQI MUHAMMAD]

Artikel ini ditujukan untuk meramaikan lomba Blog UII

About these ads

4 gagasan untuk “Pancasila di Perguruan Tinggi

  1. Ping-balik: Prediksi Keyword Populer 2011 « S . E . R . A . T

  2. Ping-balik: Aksi Nasional Sosialisasi dan Penguatan Nilai-Nilai Pancasila | Masih Hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s