Kondisi Post-anatomi, Melukis Manusia

; catatan lepas untuk memasuki tubuh manusia dalam seni rupa

Dalam kancah seni rupa, Raden Saleh Syarif Bustaman dikategorikan sebagai pioner perupa modern di Indonesia. Dilahirkan di kalangan kerabat bupati semarang, Saleh termasuk kaum pribumi sebetulnya, namun karena perupa ini banyak bergumul dengan kalangan londo, terlebih seusai belajar di Eropa atas beasiswa Belanda dan menikah dengan orang Belanda, gaya hidupnya lebih mengarah kebarat-baratan.

Perkembangan karya lukisn Saleh pun demikian. Seusai belajar di Belanda dan di beberapa negara lain di Eropa, Saleh terpengaruh dengan seni rupa romantisme yang masa itu amat menggejala di benua sana. Wujud romantisme itu tampak di beberapa lukisan Saleh, Penangkapan Diponegoro termasuk salah satunya.

Namun tulisan ini tidak hendak dijejali dengan gambaran tentang bagaimana romantisme dalam seni rupa. Juga tak bermaksud merekam ulang sejarah kehidupan Raden Saleh. Tulisan ini hanya kompilasi ide yang [kira-kira] bisa dijadikan catatan kaki untuk lukisan Penangkapan Diponegoro. Maka saya nggak bisa menjamin tulisan ini tidak ngawur.

***

Penangkapan Diponegoro merupakan lukisan repro atas karya perupa J.W. Pieneman yang dirampungkan oleh Raden Saleh pada tahun 1857, hampir 30 tahun seusai perang Diponegoro berakhir (Supangkat, 2009). Meski judul dan ukuran lukisan antara lukisan Raden Saleh dan lukisan Pieneman kurang lebih sama, namun visualisasi para aktor dalam lukisan berbeda sama sekali.

Dalam lukisan Pieneman, Pangeran Diponegoro dan para rakyat digambarkan dalam kondisi yang inferior, sedang Jendral De Cock dilukiskan dengan rupa yang berbeda: gagah, seolah memeritah. Namun tidak demikian halnya dalam lukisan karya Raden Seleh.

Berbeda lukisan berbeda tafsiran. Beda perupa beda pula maknanya. Dalam bertingkah dan gaya lukisannya, barangkali Saleh adalah orang Barat. Namun distingsi antara pribumi dan pendatang barat dalam bentuk lain—yang waktu itu masih berlaku, seperti warna kulit, anatomi tubuh, dan perasaan sebagai pribumi, masih dirasakan oleh Raden Saleh. Lukisan Penangkapan Diponegoro saya kira merupakan bukti bahwa Saleh bukanlah kaum londo.

***

Lukisan berukuran 100 x 150 cm itu begitu ramai. Bagi saya, kesan penangkapan dalam lukisan berjudul Penangkapan Diponegoro itu tidak begitu menonjol. Sebaliknya, saya malah lebih menangkap sebentuk upacara penjemputan tokoh agung yang akan menghadiri acara di luar kota, entah perundingan dengan belanda, atau hal lainnya. Apapun itu. Tapi bukan untuk diasingkan, atau dibuikan.`

Racikan gambar seperti kereta kuda yang bersiap berangkat, jendral kolonial dengan tangan terbuka yang tengah mempersilahkan, kerumunan rakyat yang takdzim memberi hormat, sang tokoh yang berpose siaga yang lantang menatap kedepan—jauh dari menunduk, dan dua orang istri yang menangis melepas kepergian suaminya, saya kira lukisan itu lebih menggambarkan suasana yang tak dekat dari duka kerana penangkapan.

Momen kepergian seorang pemimpin yang tengah meninggalkan rumahnya, tentu akan ditangkap secara khas oleh rakyat. Kalaupun kepergian itu adalah penangkapan, saya kira rakyat pun akan merasa kehilangan, juga ada resistensi barangkali. Walupun kadarnya sedikit, saya kira tetap ada. Apabila diabstraksikan dalam dunia seni rupa, ekspresi tubuh mereka pun seharusnya turut menampakkan kedukaan. Dalam Penangkapan Diponegoro, bukankah hanya kedua istri yang tampak sedih meratapi kepergian?

Para pengikutnya bertingkah sebaliknya. Yang bisa ditakik dari sikap yang ditampakkan para rakyat bukanlah kedukaan, melainkan ketenangan. Beberapa diantara mereka menunduk yang bukan karena takut melainkan rasa hormat. Ada yang mendongak bukan karena khawatir melainkan terlihat sedikit rasa penasaran saya kira. Sebagian besar yang lain tenang, dan memperhatikan gerak sang tokoh, Pangeran Diponegoro.

Lagi. Kenapa rakyatnya hanya tenang dan tidak melawan kalau itu lukisan penangkapan? Apakah Pangeran Diponegoro adalah tipe pemimpin yang tidak dikehendaki rakyat? Saya kira tidak. Dalam catatan sejarah manapun jelas dikatakan kalau Diponegoro adalah pemimpin yang dihormati pengikutnya. Dengan demikian, dugaan bahwa lukisan itu bukanlah penangkapan menjadi kian kentara.

Ya. Lukisan Penangkapan Diponegoro pun akhirnya bercerita kisah yang berbeda dimata saya. Lukisan yang mestinya menceritakan peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Cock pada tahun 1830 itu malah mencerminkan penjemputan terhadap sang pemimpin yang bukan kerana penangkapan.

***

Lukisan Penangkapa Diponegoro yang mejadi masterpiece Raden Saleh ini sempat menggegerkan dunia seni rupa. Lukisan itu dinilai memporak-porandakan kelaziman. Busana yang dipakai oleh orang-orang dalam lukisan tersebut memang mendistingsikan identitas koloni dan kolonial, namun tubuh-tubuh yang dihamparkan dalam lukisan itu bukanlah tubuh sebagai representasi masing-masing kaum, baik koloni maupun kolonial.

Saleh tidak melukiskan tubuh orang-orang kolonial sebagaimana lazimnya; anatomi pihak Belanda dipangkas. Dalam lukisan ini Saleh mengerdilkan kaum colonial. Saking kerdilnya tubuh Pangeran Diponegoro pun tak jauh beda dengan Jendral De Cock. Bahkan istri Pangeran Diponegoro pun tidak lebih rendah daripada pengawal De Cock.

Tubuh yang dilukiskan Saleh, dalam hal ini, adalah tubuh yang ganjil. Penggambaran tubuh yang digunakan menanggalkan sekat distingtif identitas koloni dan kolonial. Pengambaran ini mempengaruhi bagaimana sebuah identitas dipersepsikan. Residu dari pemaknaan atas lukisan ini adalah pengalaman sensorial atas identitas tubuh yang kabur. Begitilah saya kira tubuh yang dikooptasi dalam lukisan Saleh.

Pada titik ini, lukisan Saleh memberikan dasar pendeskripsian dalam memperkuat ide-ide dekolonialisasi ‘tubuh estetis’. Tubuh yang dilukiskan Saleh bukanlah sebuah unit-unit material yang telah dikostruksi pengetahuan, yang lalu melulu diamini dalam wujud lukisan. Terminologi ‘tubuh estetis’ ala kaum kolonial yang kerap digambarkan dengan badan yang tinggi dan berotot, tidak berlaku dalam lukisan Penangkapan Diponegoro.

Dalam konteks seni rupa, tubuh yang terhampar disana bukanlah tubuh yang melulu diamini sebagai wujud yang pakem, melainkan tubuh yang perlu dipikirkan. Tubuh semacam ini tak bisa dilihat sebagai sebuah gambar dalam lukisan semata, ia hanya bisa dipahami melalui keterlibatan kita dengannya.

Menurut J.J. Rizal, Saleh melukis dengan wujud yang demikian karena ketidakberdayaannya, sebagai pribumi, dalam menentang Belanda secara terbuka karena berutang budi. Hemat saya, cara Raden Saleh melawan seni rupa kolonial adalah dengan meleceh tubuh estetis kolonial.

Yang menarik adalah, Saleh kemudian menghadiahkan lukisan ini untuk Raja Willem III. Mengenai hal ini James C. Scott berkomentar: “ini cara melawan yang khas dari orang yang kalah,” ucapnya. Scott menganalogikan apa yang dilakukan oleh Saleh ini seperti para buruh tani yang menunduk di hadapan majikan, yang seolah-olah takzim padahal kentut diam-diam.

Meskipun Saleh empat menulis di jurnal Tijdschrift voor Ne­derlandsch Indie bahwa hidup-matinya hanya ‘dipersembahkan untuk rajaku, pemerintah, dan bangsa Belanda’, dan sampai meninggal pun batu nisannya bertuliskan Djoeroegambar Dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda, Saleh tetap sebagai pembongkar seni rupa kolonial. Dalam konteks Indoesia, saya kira, Raden Saleh juga bisa disebut sebagai tokoh dekolonialisasi seni rupa Indonesia. [Rifqi Muhammad]



About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s