jump to navigation

Menggempur Pasar Mancanegara dari Desa Mei 14, 2009

Posted by Rifqi Muhammad in artikel.
trackback

Membayangkan indonesia sebagai gudang potensi, saya tergelitik. Selama ini Indonesia selalu dimaknai sebagai gudang bahan baku produksi. Ya, memang itu yang secara nyata amat kentara. Potensi alam yang tergelar dari sabang sampai merauke, sepertinya memang menegaskan pandangan demikian.

Namun bila hanya kelaziman ini yang melulu diamini, saya kira, “kebangkrutan” adalah kata yang cukup futuristik untuk melukiskan Indonesia dimasa depan. Kenapa? Bagaimanapun, potensi alam selalu memiliki kecendrungan menyusut. Dan bila demikian yang terjadi, Indonesia sebagai gudang potensi, lamat-lamat menjadi lahan yang puso.

Tahun Industri Kreatif, demikian frasa menohok yang disematkan pemerintah untuk tahun 2009. Ini adalah langkah yang cukup revolutif untuk mengubah paradigma mengenai potensi indonesia. Disinilah Indonesia dibayangkan sebagai potensi gudang kreatifitas.

Membincangkan soal industri, tentu Indonesia indonesia masih tertinggal dimata internasional, bahkan termasuk di asia tenggara. Karenanya, hasrat untuk membasiskan proyek industri, kiranya perlu ditingkatkan lagi. Dari berbagai macam basis industri yang ada, seperti industri tekstil, kuningan, dan yang lain, saya kira industri furniture adalah lahan yang paling potensial.

Berbeda dengan yang lain, membincangkan soal potensi alam, tentu industri furniture memiliki basis potensi yang lebih merata ketimbang industri kerajinan yang lain. Tekstil, kuningan, perak, dan industri kerajinan yang lain, hanya terpusat di lokus-lokus wilayah tertentu. Sedangkan industri furniture, terutama Wooden Furniture, hampir bisa digiatkan diseluruh wilayah di Indonesia. Karena bahan baku industri furniture kayu, cenderung lebih bisa di akses dimanapun.

Pemaknaan Tahun Industri Kreatif dalam konteks industri, hendaknya tidak dimaknai dalam skala kuantitas produksi. Melainkan lebih diarahkan pada pembangunan kualitas, pengkayaan desain dan penguatan merk. Dengan demikian usaha penggiatan industri furniture kayu (build wooden furniture) pun perlu di arahkan kesana.

Potensi Indonesia adalah potesi lokalitas. Karenanya, dalam usaha penggalakan industri forniture kayu, desa adalah basis potensi utama. Dengan keragaman kultur lokalitas yang dimilikinya, desa memiliki daya tawar kreatifitas yang sangat tinggi. Soal bagaimana meletupkan wooden furniture designs, potensi lokalitas desa jelas mampu menjawabnya. Sayang, industri furniture kayu desa seringkali mengalami hambatan persaingan, entah itu karena tidak memiliki jalan, atau kesulitan modal.

Desa-desa di Indonesia memiliki modal produksi yang jelas teruji, mulai dari ketersediaan bahan, kematangan bahan, atau produsen dan tenaga yang memiliki tangan-tangan kreatif. Tahun Industri Kreatif harusnya menjadi ajang masal kontekstualisasi produksi ide furniture desa. Karenanya, perlu ada kerjasama yang sinergis antara pemerintah dengan Asosiasi Perusahaan Mebel Indonesia (Asmindo) untuk memunculkan benih-benih lokalitas industri forniture desa.

Titik tekan kenapa produk desa memiliki posisi yang strategis dalam percaturan industri furniture dunia, adalah karena desain-desain dan bahan furniture desa yang beragam. Dimata internasional, indigenous wooden furniture designs ala desa jelas memiliki daya tawar. Nuansanya yang eksotis dengan desain yang beragam, jelas mampu menyerang pasar high class internasional. Potensi ini bisa menjadi bargaining tersendiri dari industri furniture Indonesia dalam pasar furniture dunia.

Pencanangan Tahun Industri Kreatif adalah sebuah gerakan akbar yang hendak menegaskan kembali identitas Indonesia, saya kira. Menghadapi gejolak dunia yang kian bersaing, menjadi alasan utama mengapa menggunggulkan industri kreatif desa mendesak untuk diapresiasi. Saya yakin, dengan modal potensi keberagaman desain, ekspor hasil industri furniture desa akan akan meningkat. Dengan demikian, posisi industri furniture indonesia akan menguat dimata internasional. Bila kita mendambakan kebangkitan, tahun ini bisa menjadi titik tolak yag tepat. Dan desa adalah subyek penggempur pasar mancanegara.

Komentar»

1. Sholahuddin - Mei 15, 2009

Gagasan yang menarik. Tapi kenapa masih pesimis?

rifqiblog - Mei 15, 2009

menarik memang, namun ide demikian kerap mendulang hambatan, karena dianggap terkendala dalam ruang aplikasinya. saya kira perlu ada modal keyakinan memang.

2. M.Akid Aunulhaq - Mei 15, 2009

Desa sebagai asosiasi paguyuban memilik daya sosial yang kuat,dengan mengarahkan potensi sosial ini ke arah industri terjangkau dan industri kreatif(di ukur secara skala desa),furniture misalnya.maka akan menjadi kekuatan produksi luar biasa.
saya sepakat sekali dengan Rifqi Muhammad

selaiknya pemerintah memerhatikan ini.

rifqiblog - Mei 15, 2009

terimakasih. karena masih sayup, ide demikian saya kira penting untuk terus disuarakan.

3. Dea Anugrah - Mei 22, 2009

mas, menurutku diksimu menarik!

rifqiblog - Mei 22, 2009

namun begini Dea, tulisan semacam ini adalah produk imitasi. Saya yakin Dea tahu, kemana pilihan diksi yang saya gunakan ini berkiblat. Itulah mangapa, seringkali ketika menulis, saya cenderung disibukkan dengan bentuk. Barangkali karena pola yang demikian, terlalu menjajaki bentuk tulisan, produk tulisan saya akhirnya berupa kolase warna orang. Bahkan bila Dea mencermati puisi-puisi yang saya pajang, semuanya hanyalah album keragaman bentuk puisi. tidak lebih. dan Dea tentu merasakannya. pula.

4. abdi - Mei 25, 2009

ok Mas
saya yakin bahwa idea adalah baik
namun ada beberapa catatan yang meski saya berika dan Mas harus perhatikan
bagaimana pembuktian dasar untuk produk yang diterima internasional “secara objektif”?
gagasan Mas diperuntukkan siapa?
untuk cacatan yang lain, nanti saya pikirkan
hahahaha
gondrong deso
semangat ke_ndesit-an

rifqiblog - Mei 25, 2009

pembuktian obyektif bagaimana yang abdi maksud. seseorang, siapapun dia, cenderung akan tertarik pada hal yang asing. ini pernyataan yang kebenarannya mendekati objektif. atas dasar itu, saya kira produk lokal jelas memiliki keistimewaan dimata dunia.

5. ferando - Mei 29, 2009

wuih..bahasanya ngeri mas2 neh. artikelnya bagus. kebetulan furniture yang kami punya masih kembang kempis pemasarannya. kemaren aja mesti ikut pameran di jakarta dulu baru dapet buyer lumayan. sesudahnya sepi lagi. apa memang dunia diciptakan naik turun ya..hahaha..
salam kenal

rifqiblog - Mei 30, 2009

Salam kenal juga mas ferando. barangkali begitu memang. tapi saya kira tinggal bagaimana kita menyiasati.

6. din oioi - Mei 31, 2009

Salam kenal, Bang rifqi..) Industri furniture bisa menjadi bola salju bagi Indonesia di kancah perindustrian internasional. Maka bila hal itu bisa berjalan, proteksi juga perlu dilakukan. Misalnya : keterlibatan (intervensi)-sebelum dan nantinya-dari pemilik modal yang notabene kelas kakap. Jangan sampai seperti yang sudah2, di mulai oleh orang desa(miskin), eh malah dilanjutkan sama orang kota (in casu oorang kaya) . kita juga akan menemui, “bagaimana peran pemerintah seharusnya ?”.

Banyak hal yang cukup potensial dalam industri tersebut.

NB: Jangan lupa AMDAL, dan nasib hutannya, yahhhh….)

rifqiblog - Juni 1, 2009

terimakasih mas, memang strategi tetap perlu catatan kaki. prasyarat berupa perhatian pemerintah jelas tak bisa dianggap sebelah mata saja.