Mengenang Pak Kayam, Merenungi Kebudayaan, (Refleksi 6 Tahun Wafat Prof. Umar Kayam)

16 April 2002, begawan sastra dan budaya, Prof. Umar Kayam meninggal dunia. Kini, setelah enam tahun kepergiannya, dunia tampaknya tak banyak berubah. Padahal, dalam situasi yang serba sulit dan ruwet ini, bangsa ini butuh lebih banyak lagi agen-agen perubahan. Pada konteks seperti inilah kita perlu merefleksikan kembali jejak langkah dan khasanah pemikiran Pak Kayam.

Lahir pada 30 April 1932 di Ngawi, Jawa Timur, Kayam muda, mengawali riwayat akademisnya di HIS Mangkunegoro Surakarta, lalu sekolah di MULO (setingkat SMP), dan melanjutkan SMA bagian bahasa (bagian A) di Yogyakarta. Lulus dari SMA tahun 1951 langsung melanjutkan pendidikan di Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pada tahun 1955 ia berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar di New York University School of Education. Setelah menggondol gelar Master of Education, ia akhirnya menyelesaikan program doktoralnya di Cornell University USA.

Lingkaran cerita kehidupan pak Kayam terlampau luas. Sederet prestasi sekaligus prestise ia raih. Selain menjabat Direktur Pusat Studi Kebudayaan dan Perubahan Sosial (1993-1996) UGM dan Ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), ia juga pernah menjabat rektor Institut Kesenian Jakarta. Profesor UGM ini juga salah satu pendiri TIM (Taman Ismail Marzuki) dan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) sekaligus menjabat posisi ketua.

Dalam dunia akademik, dia dipandang sebagai sastrawan pertama yang berhasil menghubungkan dunia kreatif seniman dengan dunia intelektual. Betapa tidak? Ia berhasil menghadirkan karya seni agar lebih dekat dengan dunia akademis. Tak berlebihan jika gelar sastrawan tersemat kuat di pundak Umar Kayam. Keterlibatannya di pentas sastra melalui cerpen, novel, dan esai-esai kebudayaan adalah sumbangan tak terpermanai bagi kemajuan sastra Indonesia.

Orang tak bisa lupa pada cerpennya “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” (1972) yang dinyatakan sebagai cerpen terbaik oleh majalah sastra Horison pada 1968. Para kritikus mengakui bahwa kelebihan karya-karya Pak Kayam terletak pada unsur pembacaan realitas. Ia melandaskan cakrawala berpikir dari kenyataan. Itu sebabnya, Pak kayam adalah pencatat sejarah yang istimewa.

Kungkungan Kebebasan

“Tradisi kita bukanlah tradisi yang mendidik kita untuk berani berpetualang secara bebas, karena sistemnya memang tidak membolehkan kita begitu,” demikian pak Kayam mengungkai rentang zaman yang dilaluinya. Menurutnya, sistem kekuasaan di Indonesia yang terlalu kuat mencengkeram ini akan membentuk pikiran-pikiran masyarakat yang tumpul dan stagnan. “Kompleksitas kekuasaan feodalisme di satu sisi melahirkan kekuasaan yang demikian canggih, tapi di sisi lain mengharuskan rakyat tunduk setunduk-tunduknya”. Dalam hal ini, ia menggambarkan bagaimana kekuasaan di Indonesia tidak berbeda dengan feodalisme.

Sebenarnya karakteristik dari watak atau sikap feodal yang dimaksud di sini adalah sistem yang absolut. Semua hal kemudian terpulang pada kemauan elit kekuasaan di sekitarnya. Akibatnya, lahir legitimasi semu. Membebani rakyat seenak perutpun tak jadi masalah. Kini, meski bentuk konkrit feodalisme tinggal rekaman masa yang telah lampau, tapi feodalisme dalam bentuknya yang lebih berbahaya benar-benar kita rasakan. Enam tahun berselang sejak wafatnya Prof. Dr. Umar Kayam, ternyata realitas ini belum ada perubahan.

Kondisi yang demikian ini pada akhirnya akan berakibat buruk pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kebudayaan kita. Kenyataannya memang demikian, dimana sistem yang ada saat ini nyaris tidak memberikan tempat pada kebudayaan. Dengan ditempatkannya kebudayaan pada Departemen Pariwisata and Kebudayaan, kebudayaan hanya dipahami sebagai produk tontonan. Dalam sistem yang seperti ini, kita tidak akan memiliki tradisi untuk merefleksikan kebudayaan, apalagi menghasilkan kebudayaan. Padahal kebudayaan sangat berkorelasi dengan pola pikir. Kalau ini dibiarkan, akibatnya tradisi menganalisis dalam masyarakat semakin dangkal, budaya ngosip, ngobrol, dan budaya tidak produktir lain semakin kuat mengakar. “Itu bedanya dengan kultur Barat,” tegas Umar Kayam.

Dalam keterkungkungan ini, masih layakkah kita menyebut diri sebagai manusia merdeka? Zaman ini sama sekali tidak memberikan ruang gerak untuk berfikir yang merdeka. Padahal bagi Pak Kayam, kebebasan berpikir merupakan pantulan manusia merdeka. Bagaimana kita bisa merasa sebagai manusia merdeka selama tidak memiliki indepencence of mind.

Pada titik inilah Umar Kayam demikian gencar membawa spirit kebebasan berfikir. Sebab spirit itulah yang ia anggap sebagai esensi dari kemajuan kebudayaan. Ia benar-benar menyayangkan struktur yang tidak membangun ini. Baginya, kebudayaan adalah kehidupan masyarakat, kebudayaan adalah “buatan” orang banyak, sedang kekuasaan hanyalah milik beberapa orang. Kalau demikian, kekuasaan jelas tak sah menggerus kebudayaan.

Refleksi Kebudayaan

Meskipun kini sebenarnya kita masih berhadapan dengan feodalisme yang begitu mengakar, sudah tiba saatnya, demi terciptanya suatu negara yang demokratis, feodalisme harus disingkirkan. Tekad kuat untuk membenahi sistem kekuasaan adalah suatu keniscayaan. Kenapa? Agar dialektika kebudayaan dan pemikiran dapat disokong dengan modal sistem kekuasaan yang sehat. Hal ini sesuai dengan pandangan Pak Kayam bahwa kebudayaan merupakan dialektika antarsistem-sistem, bukan merupakan independent variable. Dengan demikian, kebudayaan akan berjalan menjadi, atau proses menjadi bersama-sama sengan entitas yang lain.

Pemikiran yang demikian mirip dengan pendangannya mengenai ilmu. Umar Kayam memaknai keberagaman ilmu sebagai sisi kemanunggalan yang harus direfleksikan dalam lintas disiplin ilmu lain agar tidak terkotak-kotak. Untuk mewujudkannya, seseorang harus memiliki wawasan tertentu dari masing-masing ilmu dan wawasan untuk mengkorelasikan relevansi bidangnya dengan disiplin ilmu lain. Kedua-duanya harus dimiliki oleh setiap orang.

Berdasarkan pemikiran Pak Kayam ini, Bakdi Soemanto mengatakan, “capaian pemikiran Umar Kayam yang melakukan lintas ilmu dan bahkan ilmu dengan seni. […] ini merupakan sebuah peringatan keras atas kecenderungan kompartementialisasi (pengkotakan-pen) ilmu sosial dan humaniora yang berkembang di Indonesia dewasa ini”. Betapa tidak, kita selama ini benar-benar telah mengkotak-kotakkan diri ke dalam satu disiplin ilmu tertentu.

Pak Kayam sering memakai istilah “pejalan budaya” atau cultural commuter untuk menjelaskan mengenai bagaimana orang bergerak fleksibel secara ulang-alik berdasarkan dialektika Ilmu, dialektika kebudayaan, lebih lanjut dialektika kehidupan. Ya. Persis seperti kehidupan pak Kayam penuh dengan dialektika. Tidak mengherankan apabila sosok yang memiliki segudang pemikiran ini dijuluki sebagai “Manusia Ulang Alik” dalam buku biografinya. Demikian sebuah label yang apresiatif bagi seorang intelektual sekaligus sastrawan seperti Umar Kayam.

Kini, genap enam tahun sudah sastrawan besar Prof. Dr. Umar Kayam telah berpulang sejak 16 Maret 2002. Ah, semua tampak “tiba-tiba”. Pak Kayam yang sore itu baru saja bercengkrama dengan mahasiswa, tiba-tiba harus meninggalkan kita semua. Bagaimanapun juga, sosok yang memiliki nama samaran Pak Ageng dalam kolom tetapnya di harian ini akan tetap hangat kita bicarakan.

Hembusan semilir angin perubahan dari Pak Kayam memang menyejukkan. Namun kita mesti ingat, hembusan nafas terakhirnya adalah pertanda bahwa ia mewariskan tugas perubahan yang harus dihembuskan Kayam-Kayam baru.

Rifqi Muhammad, Pegiat Komunitas Kembang Merak


About these ads

One thought on “Mengenang Pak Kayam, Merenungi Kebudayaan, (Refleksi 6 Tahun Wafat Prof. Umar Kayam)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s